Wali Siswa Mengeluh, Sumbangan Renovasi Pagar Sekolah Menjadi Beban
Cari Berita

Wali Siswa Mengeluh, Sumbangan Renovasi Pagar Sekolah Menjadi Beban

Monday, 2 December 2019

Kepsek SMKN 1 Sumenep, Zainol Sahari.(Foto : Hendra/Biro Sumenep)

SUMENEP, MaduraPost.co.id - Salahsatu Sekolah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Sumenep, Madura, Jawa Timur, menarik sumbangan sebesar Rp. 245.000 kepada seluruh siswanya dalam program perbaikan pagar sekolah dan paving.

Penarikan sumbangan dilakukan kesemua siswa mulai dari kelas X sampai kelas XII semua jurusan, dengan keseluruhan siswa mencapai 1.500 murid.

Penarikan sumbangan sendiri telah disosialisasikan pada bulan Agustus 2019 lalu, oleh komite sekolah saat Kepala Sekolah (Kepsek) tengah bepergian keluar kota.

Ironisnya, dari pungutan sumbangan tersebut ditargetkan dari nominal yang di tetapkan harus lunas sebelum ujian sekolah dimulai.

Akan hal tersebut, salahsatu wali siswa inisial H sangat resah dengan sumbangan itu. Pasalnya, dengan nominal yang cukup lumayan tinggi, masih juga dibebankan membayar uang Tabungan Khusus (Tabsus) yang setiap bulannya mencapai Rp. 50.000.

"Saya hanya takut tidak bisa membayar sumbangan ini, padahal masih ada uang Tabsus 50 ribu setiap bulan, ditambah uang pagar dan paving ini," kata H, yang termasuk keluarga miskin ini, Senin (2/12).

Padahal, lanjut H menjelaskan, sumbangan itu bentuknya menekan, namun hal tersebut menjadi kekhawatiran bagi dirinya.

"Mau tidak mau saya harus bayar, demi anak saya harus bisa ikut ujian, meski ini dirasa sulit. Karena pembayaran itu ditekan pihak sekolah, sebelum ujian bulan Desember di mulai, harus lunas," terangnya dengan nada takut.

Sementara itu, saat ditemui di SMKN 1 Sumenep, Kepsek bersama komite sekolah menerangkan, jika pembayaran sumbangan sudah sesuai dengan kesepakatan wali siswa.

"Sudah sesuai dengan kesepakatan wali siswa. Tapi misalkan tidak mampu, silahkan datang ke sekolah, pasti dibebaskan," ungkap Yudi Sutiono, Komite SMKN 1 Sumenep.

Selain itu, Kepsek SMKN 1 Sumenep, Zainol Sahari, juga membenarkan perihal penarikan sumbangan dengan ploting nominal Rp. 245.000 tersebut.

"Program ini tidak harus terwujud, kalau memungkinkan silahkan, kalau tidak ya tidak usah. Karena saya tidak ingin sekolah jadi beban," katanya, pada awak media.

Bahkan, dia menyampaikan, apabila hal itu tersebut dirasa berat, penarikan sumbangan yang menjadi programnya itu tidak dibayar secara utuh tidak jadi masalah. Sebab, siswa tetap harus mengikuti ujian meski belum melunasi penarikan sumbangan yang sudah disepakatinya itu.

"Tadi pagi sudah saya sampaikan, jangan sampai ada siswa yang tidak ikut ujian gara-gara biaya. Apalagi hanya karena pagar ini, semuanya harus ikut ujian," tegas dia.

Terpisah, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Sumenep, Sugiono Eksantoso, membantah jika belum ada laporan masuk terkait penarikan sumbangan disekolah negeri yang dipimpinnya tersebut.

"Wah itu tidak boleh, sampai saat ini belum ada laporan masuk ke saya terkait adanya penarikan sumbangan di sejumlah SMA/SMK sederajat," paparnya, saat dihubungi melalui sambungan selularnya.

Sedangkan, Kepsek SMKN 1 Sumenep, mengklaim bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Kacabdin Sumenep.

"Sudah kok kami laporan, tapi tidak secara tertulis. Kami tidak sembarangan juga mengambil keputusan," pungkasnya. (MP/MHE/RUL)