Pembacokan Terhadap Wiranto Adalah Hal Kecil Dibandingkan Tragedi Kekerasan Pada Rakyat
Cari Berita

Pembacokan Terhadap Wiranto Adalah Hal Kecil Dibandingkan Tragedi Kekerasan Pada Rakyat

Sunday, 13 October 2019

Harits Abu Ulya, Pengamat Terorisme dan Intelejen

NASIONAL, Madurapost.co.id - Pengamat terorisme dan intelijen, Harits Abu Ulya menyatakan sepakat untuk mengutuk setiap aksi kekerasan fisik terhadap semua anak bangsa. Namun, dia menduga kekerasan bisa saja aktornya adalah negara, oknum aparatur negara, atau dari sekelompok masyarakat bahkan bisa dari individu-individu masarakat terhadap sesama anak bangsa penghuni NKRI.

“Kasus yang menimpa Pak Wiranto menurut saya adalah salah satu contoh tindak kriminal kekerasan. Aksi kriminal tersebut perlu ditindak sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” kata Harits di Jakarta, Kamis (10/10).

“Bisa saja itu pelakunya adalah orang-orang yang secara personal benci kepada Wiranto sebagai Menko Polhukam yang selama ini dianggap membuat statemen politik yang tidak nyaman bagi sebagian nalar dan nurani publik,” ujarnya melanjutkan.

Selain itu, kata dia, bisa saja kasus kriminal ini seolah menjadi sangat penting karena yang di serang adalah seorang pejabat menteri meski jelang titik akhir jabatannya. Namun, jika dibandingkan dengan kasus atau tragedi aksi kekerasan lainnya yang menimpa rakyat, maka apa yang dialami Wiranto suatu hal yang kecil.

“Rakyat masih banyak yang lebih menderita dan butuh perhatian lebih serius pengungsi korban gempa Ambon, pengungsi dan korban penyerangan di wamena, korban meninggal dan luka-luka saat aksi demontrasi beberapa pekan lalu, dan lain-lain,” katanya.

“Jadi kita proporsional saja, pelaku kriminal penyerangan di bawa ke meja hijau dan di adili,” imbuhnya.

Namun, bisa saja ada sebagian pihak yang ngebet menyeret ke arah isu terorisme dengan munculnya narasi keterkaitan pelaku kriminal tersebut dengan kelompok tertentu yang selama ini di cap teroris. Dengan begitu akan mudah memunculkan judul ‘Menteri Polhukam di serang Teroris’, akhirnya akan banyak melupakan persoalan urgen lainnya dan publik di seret ke isu daur ulang yang tidak ada ujung pangkalnya.

“Bahkan bisa saja muncul dramatisasi dengan narasi yang bombastis sesuai kepentingan politik yang menunggangi kasus kriminal ini jelang pelantikan presiden,” tuturnya.

Harits menjelaskan, di sisi lain ada realitas menarik bahwa selama ini publik gelisah dan berharap agar para pejabat atau penguasa bisa kontrol diri tidak keluarkan kebijakan atau statemen yang menyakiti hati nurani rakyat. Jika tidak, membuka keniscayaan memotifasi warga atau rakyat berbuat nekat menyerang pejabat.

“Pada konteks ini, dalam kajian terorisme ketika kita bisa meminjam pendekatan metode analisa yang tepat agar paham kenapa selama ini aparat keamanan atau seorang pejabat jadi target kekerasan atau teror dari segelintir atau sekelompok orang,” katanya.

Masyarakat dapat menggunakan framework rasional. Metodologi ini mengkaji korelasi antara teroris dan sasaran dalam aspek kesamaan-kepentingan, konflik kepentingan dan pola interaksi diantara keduanya.

Dalam framework ini teroris dan sasaran terornya diletakkan sebagai aktor rasional dan strategis. Rasional dalam arti tindakan mereka konsisten dengan kepentingannya dan semua aksi mencerminkan tujuan mereka.

“Strategis dalam artian pilihan tindakan mereka dipengaruhi oleh langkah aktor lainnya (lawan) dan dibatasi oleh kendala (constrain) yang dimilikinya,” katanya.

Jika framework kultural berasumsi nilai menghasikan tindakan, tindakan sangat tergantung persepsi dan pemahaman (ideologi) yang dimiliki teroris. Dengan framework ini semata akan berdampak parsial memahami terorisme dan menyeret publik kepada profil teroris dan tindakan terornya semata sementara sasaran teror di abaikan.”Dampak turunannya adalah solusi yang temporer dan parsial,” katanya.

Sementara, framework rasional berasumsi kalkulasi strategis antar aktor menghasilkan teror. Frame ini mengharuskan evaluasi terhadap langkah, kebijakan, strategi yang digunakan oleh kedua belah pihak teroris dan sasaran teror.

Meski resiko logisnya penggunaan metodologi ini akan di anggap analisis yang objektif dan rasional atau dianggap sebagai simpatisan teror karena manganalisa secara kritis sasaran teror, di saat sasaran sedang menjadi korban. 

Penggunaan framework rasional penting karena mampu menjawab dua hal penting; kondisi yang memunculkan dan kondisi yang meredam terjadinya teror.

“Aksi kekerasan terhadap Pak Wiranto barangkali mengharuskan pribadi Wiranto untuk intropeksi diri dan mawas diri sebagai pejabat publik yang notabene abdi rakyat. Di samping kita juga tidak sepakat dengan segala bentuk aksi kekerasan oleh siapapun pelakunya,” ucap Harits. 

Sumber : Indonesiainside.id
Judul : Pengamat Nilai yang Dialami Wiranto Hal Kecil Dibandingkan Tragedi Kekerasan pada Rakyat