Mengenal Tradisi "Okol" Pamekasan, Budaya Menunggu Hujan Saat Kemarau Panjang
Cari Berita

Mengenal Tradisi "Okol" Pamekasan, Budaya Menunggu Hujan Saat Kemarau Panjang

Friday, 25 October 2019

Kegiatan Olah Raga "Okol" Di Kecamatan Palengaan, Pamekasan

PAMEKASAN, Madurapost.co.id - Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, memiliki beragam tradisi lokal. Salah satunya adalah Tradisi "Okol" yang sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam.

Sepintas, Tradisi okol ini seperti orang bergulat. Tampak dua orang lelaki dewasa mengenakan celana panjang berada dalam sebuah lingkaran. Saat wasit memberi tanda Okol dimulai, kedua pria dewasa tersebut saling merangkul dengan memegang lengan untuk menjatuhkan musuhnya.
Salah satu dari pria tersebut akan dinyatakan sebagai pemenang, mana kala bisa menjatuhkan musuhnya.

Tradisi tahunan itu merupakan budaya turun temurun dari nenek moyang di beberapa desa yang tersebar di lima kecamatan, Yaitu, Kecamatan Palengaan, Pegantenan, Larangan, dan Proppo, dan Kecamatan Kota. Tujuannya, untuk hiburan serta menyambut musim hujan.

"Okol atau keket ini biasa kami lakukan ketika selesai panen tembakau  atau saat kemarau panjang dengan tujuan menyambut musim hujan," Terang M Soleh, salah satu panitia kegiatan okol.

Sebelum memulai pertandingan, para panitia melaksanakan ritual tahlilan atau istighosah bersama yang bertujuan untuk keselamatan dan keamanan kegiatan. Selain itu, masyarakat lokal juga memohon doa agar disegerakan turun hujan.

"Kami sengaja mengawali agar di daerah lain juga melaksanakan kegiatan serupa," Terang Soleh ditengah tengah keramaian penonton.

Salah satu pemain okol dari Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, Muhtadi mengungkapkan, tradisi itu memang banyak digemari oleh masyarakat lokal, utamanya di Desa Plakpak. Ia pun mengaku bertarung karena faktor kesenangan, bukan semata-mata karena hadiah yang dibagikan.
"Kalau dilihat dari hadiahnya gak seberapa,"ucapnya

Muhtadi berharap, tradisi tersebut tetap dipertahankan sebagai bagian dari khazanah kekayaan lokal. Selain itu iya juga mengungkapkan jika tradisi itu sebagai upaya menghilangkan budaya carok yang menjadi stigma negatif bagi masyarakat Madura pada umumnya. (Mp/zai/Din)