Beri Keterangan Palsu, Eks Karteker Desa Bira Tengah Dilaporkan Ke Polisi
Cari Berita

Beri Keterangan Palsu, Eks Karteker Desa Bira Tengah Dilaporkan Ke Polisi

Saturday, 12 October 2019

Kades Bira Tengah, Martuli (kiri) di dampingi kuasa hukum saat berada di Mapolres Sampang


SAMPANG, Madurapost.co.id - Martuli, Kepala Desa Bira Tengah, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang, melaporkan oknum mantan karteker Kades Bira Tengah Mustofa ke polisi.  Mustofa dilaporkan atas dugaan pemberian keterangan palsu.

Martuli mengatakan, Mustofa menjabat sebagai karteker desa Bira Tengah pada 2014 lalu. Saat itu dia melakukan tukar guling tanah milik desa dengan tanah warga setempat. Mustofa mengaku bahwa tukar guling tanah tersebut atas perintah bupati yang saat itu dijabat Fadhilah Budiono.

"Luas tanah desa yang ditukar guling 2,8 hektare," tuturnya kepada Madurapost.co.id. Sabtu (12/10/19).

Dirinya menyampaikan, sudah dua kali dirinya dilaporkan ke polisi dengan dugaan penyerobotan tanah. Dan saat ini, laporan tersebut sudah masuk tahap penyidikan karena di lokasi terpasang police line.

"Yang melaporkan ke polisi itu adalah orang yang mengaku memiliki hak atas tanah itu. Padahal, itu merupakan tanah milik desa atau pecaton," katanya.

Menurut dia, tanah yang saat ini menjadi tanah sengketa tersebut, dikelola oleh masyarakat Desa Bira Tengah, kemudian hasilnya dijadikan sebagai pendapatan asli desa. Namun ada masyarakat yang merasa memiliki tanah tersebut atau yang telah melakukan tukar guling dengan Mustofa.

“Atas dasar hal itu, saya melakukan pelaporan karena apa yang dilakukan oleh Mustofa melanggar hukum dan tidak mendasar dan proses tukar guling tanah tersebut tidak sah”, ujarnya.

Kuasa Hukum Martuli, Dr. Ahmad Rifai, SH.MHum mengatakan, perbuatan Mustofa telah melanggar ketentuan pasal 266 ayat 1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

Barang siapa menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik mengenai sesuatu hal yang kebenarannya harus dinyatakan oleh akta itu, dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai akta itu seolah-olah keterangannya sesuai dengan kebenaran.

“Jika terbukti melakukan keterangan palsu dan menimbulkan kerugian, Mustofa dapat diancam dengan pidana penjara paling lama 7 tahun. Apabila pemakaian itu dapat menimbulkan kerugian, maka dapat dipidana penjara paling lama 7 tahun”, terangnya.

Sayangnya, hingga berita ini diturunkan Kasat Reskrim Polres Sampang AKP. Subiyantana belum bisa dimintai keterangan. Beberapa kali dihubungi melalui sambungan telepon tak direspon. (mp/zen/rus)