Proyek Pengerasan Bahu Jalan Sampang - Ketapang Rp 1,6 Miliar Mendapat Sorotan Masyarakat
Cari Berita

Proyek Pengerasan Bahu Jalan Sampang - Ketapang Rp 1,6 Miliar Mendapat Sorotan Masyarakat

Sunday, 1 September 2019

Pengendara melitas di sekitar lokasi pengerjaan proyek pengerasan bahu jalan di Kecamatan Robatal
SAMPANG, Madurapost.co.id - Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa timur (Jatim) menjalankan proyek pengerasan bahu jalan dan pembangunan pelengkap di Jalan raya Sampang - Ketapang. Titik lokasi pengerjaan di desa Jelgung, Kecamatan Robatal. Tapi proyek yang belum lama dikerjakan itu menuai sorotan warga. Pasalnya, sumber dana dan tahun anggaran proyek tidak jelas.

Berdasarkan data yang ada di papan informasi. Pihak penyedia jasa proyek tersebut ialah CV. Kencana Bahari yang beralamat di jalan Pemuda Baru No.58, Sampang dengan nilai kontrak Rp 1.608.896.000,00, waktu pelaksanaan di mulai pada 24 Juli 2019. Sementara, tahun anggaran program terlulis 2018.

Papan informasi poyek yang terpasang di lokasi. 

Moh. Yanto, tokoh masyarakat desa Jelgung, Kecamatan Robatal mengaku senang dengan adanya proyek tersebut. Pengerasan bahu jalan akan memperlebar dan memperkuat struktur jalan. Namun, ada hal yang perlu di evaluasi terkait dengan pengerjaan proyek itu. Antara lain, waktu pelaksanaan proyek yang molor. Jika mangacu pada informasi yang ada di papan, proyek itu seharusnya mulai dikerjakan pada 24 Juli. Kenyataannya, proyek itu baru mulai dikerjakan di akhir Agustus.

"Pengerjaan yang molor akan berdampak terhadap kualitas proyek. Padahal, itu merupakan pembangunan jangka panjang," tuturnya kepada Madurapost. Minggu (01/09/19).

Kemudian, hal yang patut dipertayakan dari proyek itu ialah terkait dengan sumber dana dan tahun anggaran program. Sebab, informasi yang ada di papan proyek tidak jelas. Padahal, informasi itu penting untuk diketahui masyarakat.

"Sumber anggaran tak jelas apakah dari provinsi Jatim atau pusat. Anehnya tahun anggarannya tertulis 2018. Ini kan lucu, kami curiga jangan-jangan itu memang proyek  tahun lalu yang baru dikerjakan tahun ini," katanya.

Pria 49 tahun itu berharap agar Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa timur (Jatim) di Sampang aktif melakukan pengawasan proyek tersebut. Mulai dari tahap pengerjaan hingga finishing. Pihak pelaksana atau penyedia jasa Haris maksimal dalam mengerjakan proyek tersebut. Semua tahapan harus sesuai dengan juklak dan juknis, dan sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang tertera dalam kontrak kerja.

"Proyek harus bisa selesai tepat waktu dan tidak boleh molor. Terpenting ialah kualitas pengerjaan harus lebih diutamakan, agar jala tidak mudah rusak," pintanya.


Kepala Pembantu UPT PU Bina Marga Provinsi Jatim di Sampang, Moh. Haris menegaskan bahwa, proyek tersebut merupakan program tahun 2019. Bentuk pengerjaan berupa pengerasan atau pengecoran bahu jalan sepanjang 1,2 kilometer dan diperkuat dengan agregat. Selain itu, juga ada pembangunan bahu jalan atau plengsengan di beberapa titik yang rawan longsor.

Dia menyampaikan, masa kontrak kerja proyek tersebut selama 90 hari terhitung sejak 24 Juli 2019. "Tahun anggaran yang ada di papan proyek salah. Yang benar itu tahun anggaran 2019 bukan 2018. Mengenai molornya waktu pelaksanaan itu masih bisa ditolerir, terpenting perencanaannya matang dan bisa selesai tepat waktu," ujarnya.


Pihaknya berharap penyedia jasa bekerja dengan baik dan maksimal. Semua tahapan pengerjaan proyek harus sesuai dengan juknis. Pihaknya bersama konsultan pengawas akan aktif melakukan pengawasan di lapangan. Semua elemen masyarakat  mempunyai hak untuk melakukan pengawasan terhadap proyek provinsi. Jika ada indikasi proyek dikerjakan asal-asalan segera laporkan ke dinas.


"Kita akan awasi terus. Setiap hari teman-teman pengawas dan konsultan kelapangan untuk mengecek dan mengawasi pengerjaan proyek itu," tukasnya. (mp/zen/rus)