Kemarau Panjang, Debit Air Sumber PDAM Trunojoyo Sampang Menyusut 50 Persen
Cari Berita

Kemarau Panjang, Debit Air Sumber PDAM Trunojoyo Sampang Menyusut 50 Persen

Wednesday, 25 September 2019

Warga mengisi air ke jeriken di desa Jelgung, Kecamatan Robatal. 
SAMPANG, Madurapost.co.id  - Kemarau bukan hanya berdampak pada kekeringan di sejumlah daerah di Sampang. Tapi juga berefek pada debit air di sebagian sumur milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Trunojoyo Sampang.

Akibat kemarau panjang debit air di sumber mengalami penyusutan hingga 50 persen dari kondisi normal.

Kondisi tersebut, diperparah dengan terjadinya kerusakan pipa jaringan PDAM akibat proyek pelebaran jalan. Sehingga, membuat penyaluran air ke pelanggan di beberapa wilayah mengalami gangguan.

Kabag Hubungan Pelanggan PDAM Trunojoyo Sampang Yazid Solihin mengatakan, selama ini, PDAM memiliki lima sumber  dengan debit air yang banyak. Tapi, saat kemarau seperti sekarang ada sebagian sumber yang airnya mengecil. Akibatnya, penyaluran air bersih ke pelanggan tidak maksimal.

"Sumber air yang mengalami penurunan debit itu di Sumber Kampung Rubaru, Desa Glisgis, Desa Gunung Maddah, dan sumber di desa Sogian, Kecamatan Omben," ucapnya. Selasa (25/09/19).

Dia mengungkapkan, setiap musim kemarau selalu terjadi penyusutan debit di sumber. Tapi, penyusutan debit air yang cukup signifikan baru kali ini terjadi. Biasanya penurunan debit maksimal hanya 10 persen dari kondisi normal.

Dia mencontohkan, musim kemarau tahun lalu debit sumber Kampung Rubaru hanya menyusuy 8 liter per detik. Sementara, tahun ini menurun 15 liter per detik. Kemudian ditambah adanya kerusakan pipa jaringan akibat proyek sehingga membuat penyaluran air ke masyarakat terhambat.

"Pipa dan tekanan air sudah kami maksimalkan. Dari yang tekanannya di angka 3,5 liter per detik sudah naik menjadi 5 liter per detik. Meskipun masih dibawah normal tapi setidaknya pasokan untuk masyarakat sudah sedikit lebih baik,” jelasnya.

PDAM berupaya memaksimalkan pendistribusian air ke pelanggan. Salah satunya, dengan melakukan rekayasa penggunaan air, dan pendistribusian air ke pelanggan dilakukan secara bertahap.

Dirinya mengakui saat ini masih ada beberapa keluhan-keluhan dari masyarakat terkait air yang masih sulit. Yazid menyatakan, kondisi tersebut kemungkinan terjadi karena masih adanya masalah pada jaringan masing-masing rumah. Untuk itu ia juga telah menginstruksikan kepada jajarannya untuk melakukan pengecekan ke jaringan di rumah-rumah.

Kemungkin ada sumbatan atau masalah lain sehingga belum alirannya masih terganggu. Kami sudah instruksikan untuk pengecekan ke lapangan, ke masing-masing jaringan di rumah-rumah penduduk. "Kami terus berupaya memberikan bantuan air jika ada laporan dari masyarakat yang kesulitan air,” ujarnya.

Moh. Waris, 41, aktivis lingkungan asal Kecamatan Kedungdung mengatakan, penyusutan debit air di sejumlah sumber bukan hanya disebabkan karena musim kemarau. Tapi juga disebabkan karena sumber tersebut kurang mendapat perhatian dari PDAM. Buktinya, minimnya pepohonan dan lahan resapan air di sekitar sumber.

"Jumlah sumur bor di sekitar lokasi sumber juga harus dibatasi. Karena semakin banyak sumur bor, debit air di sumber akan menyusut," tandasnya. (mp/zen/rus)