Sampang Krisis Air. Warga Mandi Menggunakan Kubangan Air Sungai
Cari Berita

Sampang Krisis Air. Warga Mandi Menggunakan Kubangan Air Sungai

Saturday, 31 August 2019

Warga desa Torjunan, Kecamatan Robatal mandi di kubangan air yang merupakan sisa aliran sungai. 

SAMPANG, Madurapost.co.id - Dampak kekeringan sangat dirasakan masyarakat di sebagian wilayah kabupaten Sampang. Salah satunya, di desa Torjunan, Kecamatan Robatal. Kekeringan yang melanda mengakibatkan warga di desa tersebut kesulitan mendapatkan air, warga terpaksa menggunakan air kubangan yang ada di sungai untuk mandi dan mencuci pakaian.

Pantauan di lokasi. Saat musim kemarau seperti sekarang sungai di desa ini kering, namun masih ada dua titik kubangan air yang tersisa.  Setiap hari warga memanfaatkan kubangan itu untuk mandi dan mencuci pakian. Padahal, airnya sudah kotor, berubah warna dan bau.

Aisyah, 32,  warga setempat, menuturkan, setiap tahun selama musim kemarau desanya selalu mengalami krisis air bersih. Sumur milik warga kering. Jadi, untuk bisa memenuhi kebutuhan air sehari-hari warga harus membeli air tangki.

Kekurangan air mulai dirasakan sebelum Idul Adha. Untuk mendapatkan air bersih, dia membeli Rp 300 ribu per tangki. Satu tangki berisi lima ribu liter dan bisa dipakai selama seminggu. " Itu untuk memasak, mandi, mencuci, dan semacamnya,” tuturnya Sabtu. (31/8/19).

Jika tidak membeli air tangki. Aisyah harus bangun pukul empat pagi untuk mengambil air di sumur warga di desa Jelgung. Sementara, jarak antara desa Torjunan dengan Jelgung kurang lebih dua kilometer.

"Kalau sudah tidak punya uang untuk beli air tangki. Kami terpaksa mandi dan mencuci dengan memanfaatkan kubangan air yang tersisa di aliran sungai. Airnya sudah kotor, berubah warna, dan bau," bebernya.

Dia berharap pemkab bisa memberikan perhatian terhadap warga di desanya dengan mendistribusikan bantuan air bersih selama musim kemarau. Sebab, tidak semua warga bisa membeli air tangki.

"Seingat saya bantuan droping air bersih dari BPBD hanya sekali. Padahal, kekeringannya berbulan-bulan," ucapnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sampang Anang Djoenaidi mengatakan, desa yang tahun ini terdampak kekeringan berjumlah 67. Tersebar di 12 kecamatan. Jumlah desa kekeringan di Kota Bahari bertambah dibandingkan tahun lalu yang hanya ada 42 desa.

"Setiap musim kemarau desa Tojunan, Kecamatan Robatal memang selalu mengalami kekeringan. Sumur milik warga kering. Desa yang paling banyak mengalami kekeringan itu di Kedungdung, Robatal, Karang Penang, dan Sreseh," ucapnya.

Program bantuan droping air bersih ke desa yang mengalami kekeringan sudah dilakukan. Pihaknya mendistribusikan air  6 - 12 tangki, tiap desa dibantu tiga tangki air. Lokasi pendistribusian ditempatkan di rumah kepala desa, depan masjid, lapangan, dan di tempat lain yang mudah dijangkau.

"Anggaran droping air bersih Rp 51 juta per desa. kami selalu berkoordinasi dengan camat dan kepala desa dalam mendistribusikan bantuan air bersih kepada masyarakat. Dan program droping air bersih dilakukan sampai Agustus 2019," terangnya.

Anang tidak menampik jika bantuan droping air bersih tidak bisa mencukupi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau. Hal itu bukan disebabkan karena anggaran minim,  melainkan jumlah personel dan armada terbatas.

"Kalau dibilang sudah mencukupi belum. Tapi itu sudah sesuai dengan kemampuan kami. Kami sudah mengajukan penambahan personel dan armada kepada pemkab dan Pemprov Jatim. Tapi sampai sekarang belum ada jawaban," katanya.

Menanggapi itu, Anggota DPRD Sampang Shohebus Sulton mengatakan, bencana kekeringan bukan persoalan baru di Kota Bahari. Namun, hingga saat ini upaya penanganan yang dilakukan pemkab hanya sebatas jangka pendek. Yakni hanya berupa bantuan droping air bersih.

"Dropping air bersih kepada masyarakat tidak bisa menjamin kebutuhan warga terhadap air selama musim bisa tercukupi,” katanya.

Menurut dia, ada program strategis yang bisa dijalankan pemkab untuk bisa menangani persoalan kekeringan dan krisis air bersih, yakni program pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Program tersebut tidak hanya menjadi solusi bagi pemkab untuk mengatasi kekeringan. Tetapi, juga masuk dalam program percepatan penanggulangan kemiskinan.

Politikus asal Kecamatan Karang Penang itu juga mempertanyakan suplai air bersih dari Sumber Payung, Kecamatan Ketapang ke Kecamatan Robatal yang sampai saat ini belum lancar. Bahkan, airnya tidak mengalir. Padahal, selama ini pipa dari SPAM Ketapang sudah terpasang.

DPRD dua periode itu berharap agar penyaluran air melalui pipa SPAM dari Sumber Payung dioperasikan secara maksimal. Sehingga, saat musim kemarau warga tidak kesulitan mendapatkan air bersih.

”Pipa SPAM sudah lama terpasang. Sekarang tinggal bagaimana Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Sampang memahami dan memprioritaskan program tersebut di wilayah rawan kekeringan,” tandasnya. (mp/zen/rus)