Proyek Peningkatan Jalan Rp 15 Miliar Diduga Dikerjakan Asal-asalan
Cari Berita

Proyek Peningkatan Jalan Rp 15 Miliar Diduga Dikerjakan Asal-asalan

Thursday, 22 August 2019

Lokasi proyek peningkatan jalan provinsi di kecamatan Kedungdung,(Foto: Zainal abidin/Biro Sampang)

SAMPANG, Madurapost.co.id - Proyek peningkatan jalan provinsi Sampang - Ketapang di Kecamatan Kedungdung menuai sorotan masyarakat. Pasalnya, proyek dengan anggaran Rp 15 miliar itu diduga dikerjakan asal-asalan dan tak sesuai dengan spek.

Moh. Anwar Sanusi, tokoh masyarakat desa Gunung Eleh, kecamatan Kedungdung menuturkan, proyek tersebut bagus untuk meningkatkan struktur bangunan jalan Sampang - Ketapang. Jalan akan semakin bangus dan lebih lebar dari sebelumnya. Tapi,  dirinya menduga proyek tersebut dikerjakan asal-asalan. Indikasinya, banyak teknik atau ketentuan yang dilanggar pihak pelaksana dalam mengerjakan proyek itu.

Misalnya, pada saat proses pemadatan atau pemasangan agregrat dilakukan tampa menggunakan air. Pihak pelaksana langsung meratakan pasir dan krikil dengan mesin Wales. Padahal, sebelum pemadatan itu dilakukan harus disiram terlebih dahulu. Tujuannya, agar pasir dan kerikil bisa lebih padat dan kuat.

"Mobil tangki untuk melakukan penyiraman sudah ada. Tapi itu tak digunakan, hanya diparkir di pinggir jalan di sekitar lokasi proyek," tuturnya kepada Madurapost. Kamis (22/08/19).

Pria yang menjabat sebagai anggota DPRD Sampang itu mengungkapkan, semenjak pengerjaan jalan tersebut dimulai, banyak masyarakat setempat  yang mengeluhkan terkait dengan polusi yang ditumbulkan. Sebab, tanah bekas galian dibirkan menumpuk di pinggir jalan. Akibatnya, debu beterbangan dan mengotori rumah warga. Para pengendara yang melintas di jalan tersebut juga terganggu.

"Debunya beterbangan dan menggangu kenyamanan warga dan pengendara karena tidak dilakukan penyiraman," katanya.

Apabila mengacu pada ketentuan. Tanah bekas pengerukan  tidak ditumpuk dipinggir jalan. Pihak pelaksana harus menyediakan lahan untuk membuang tanah bekas pengerukan.  Dengan begitu, adanya proyek tidak menggangu aktivitas warga. Sejak proyek tersebut dikerjakan hingga saat ini belum terpasang papan informasi di lokasi. Padahal papan itu penting sebagai informasi kepada masyarakat terkait dengan nama program, besaran anggaran, dan masa kontrak kerja.

"Seharusnya publikasikan jenis kegiatannya apa, berapa anggarannya, supaya warga bisa tahu," ucapnya.

Pihaknya berharap agar pihak pelaksana bisa lebih maksimal mengerjakan proyek tersebut. Semua tahapan harus sesuai dengan juklak dan juknis yang ada. Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa timur (Jatim) di Sampang harus proaktif melakukan pengawasan. Mulai dari tahap pengerjaan hingga finishing. Tujuannya, agar hasil pengerjaan berkualitas dan jalan tidak mudah rusak.

"Kami tidak ingin proyek itu hanya bisa bertahan seumur jagung akibat pengerjaan yang asal-asalan dan tak sesuai spek," pintanya.

Sementara itu, Kepala Pembantu UPT PU Bina Marga Provinsi Jatim di Sampang, Moh. Haris mengatakan, proyek tersebut langsung diawasi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Surabaya. Pihaknya  tidak mempunyai kewenangan untuk melakukan pengawasan.

Dikatakan, setiap proyek peningkatan jalan dikerjakan berdasarkan spek. Dalam proses pemadatan atau pemasangan agregrat tetap menggunakan air, tapi itu hanya secukupnya dan tidak terlalu banyak.

"Kalau terlalu banyak disiram tanah akan becek, dan agregat   tidak bisa padat, hasilnyapun tidak akan maksimal,"ujarnya.

Dia manyampaikan, semua elemen masyarakat  mempunyai hak untuk melakukan pengawasan proyek provinsi. Jika ada indikasi proyek dikerjakan asal-asalan segera laporkan ke dinas. "Warga tidak usah takut untuk melapor," tukasnya. (mp/zen/lam)