Harga Tembakau Tak Memuaskan Petani. Disperdagprin Tidak Bisa Intervensi Tengkulak - Pabrik.
Cari Berita

Harga Tembakau Tak Memuaskan Petani. Disperdagprin Tidak Bisa Intervensi Tengkulak - Pabrik.

Tuesday, 27 August 2019

Foto : Google

SAMPANG, Madurapost.co.id - Petani di Kabupaten Sampang banyak yang menanam tembakau. Sebagian besar tanaman tembakau sudah hampir panen. Namun petani mengeluhkan harga tembakau yang dipatok pembeli karena tidak memuaskan.

Informasi yang dihimpun Madurapost. Harga komiditas yang dijuluki daun emas itu hanya dibanderol Rp 30 - 45 ribu per kilogram. Harga tersebut diluar eskpektasi petani.

Solihin, petani tembakau di desa Pangelen, Kecamatan Sampang menuturkan, harga tembakau saat ini berbanding terbalik dengan harga yang diprediksi. Petani mengira harga tembakau musim ini bisa lebih mahal dari sebelumnya. Sebab, musim ini produksi tembakau minim dibandingkan tahun lalu.

Petani berharap harga tembakau tembus Rp 50 ribu per kilogram. Kenyataannya, tembakau dihagai murah. Dirinya mengungkapkan, dibanding tahun lalu harga tembakau musim ini tidak mengalami perbedaan cukup jauh.

"Dulu harga tertinggi Rp 45 ribu per kilogram. Itu sudah tembakau kualitas bagus," tuturnya kepada Madurapost. Selasa (27/08/19).

Pria 50 tahun itu mengaku khawatir harga tembakau turun. Apalagi tembakau belum panen. Dia berharap, cuaca tetap bersahabat kepada petani tembakau. Solihin juga berharap harga tembakau terus membaik. Seperti dulu saat tembakau masih berjaya dan menguntungkan petani.

”Harga tembakau yang bagus dan menguntungkan petani itu pada 2017-2018. Di mana harganya mencapai Rp 50 ribu per kilogram. Kalau tembakau kualitas bagus bisa sampai Rp 55 ribu per kilogram," katanya.

Pria asal Jombang itu mengatakan, pemerintah seharusnya bisa membantu petani dengan mengontrol harga tembakau. Sebab, tembakau merupakan harapan besar petani untuk bisa mendapatkan keuntungan melimpah. Apalagi, perawatan tanaman bahan baku rokok itu rumit dan membutuhkan biaya banyak.

"Kalau setiap tahun harga tembakau rendah, petani rugi, dan hanya dapat capek," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagprin) Sampang Wahyu Prihartono mengaku tidak mempunyai kewenangan menentukan harga tembakau. Harga tembakau ditentukan pembeli atau tengkulak, dan pabrik.

Upaya untuk mengontrol dan mengawasi harga tembakau sudah dilakukan. Tapi, instansinya tidak bisa mengatur atau menentukan harga tembakau di pasaran.

"Kami tidak bisa ikut-ikutan dalam penentuan harga tembakau. Apalagi mengintervensi tengkulak dan pabrik," katanya.

Wahyu menjelaskan, harga sangat dipengaruhi dan bergantung kualitas tembakau. Oleh karena itu, petani harus bisa memerhatikan kualitas tembakau yang ditanam.  Tembakau yang kering juga bisa menentukan harga yang lebih baik.

Menurut dia, beberapa tahun terakhir kualitas tembakau di Kota Bahari mengalami peningkatan. Kualitas tembakau bagus karena banyak petani yang menanam tembakau khas madura yaitu prancak 95. Produksi tembakau dengan kualitas bagus itu berasal dari kecamatan Karang Penang dan Sokobanah. Harganya mencapai Rp 50 ribu per kilogram.

"Kalau kualitas tembakau yang dihasilkan bagus. Petani jangan khawatir rugi. Karena harganya pasti mahal," tukasnya. (mp/zen/red)