Disdik Sampang Kesulitan Tekan Angka Siswa Putus Sekolah
Cari Berita

Disdik Sampang Kesulitan Tekan Angka Siswa Putus Sekolah

Friday, 30 August 2019

Sejumlah siswa SD di Kecamatan Kota saat hendak pulang sekolah.

SAMPANG, Madurapost.co.id - Angka siswa putus sekolah di Kabupaten Sampang selama ini masih tinggi. Setiap tahun banyak siswa yang tidak tamat sekolah dan tidak melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Baik di tingkat SD, SMP/MTs, SMA dan MA. Penyebabnya kompleks. Namun yang dominan karena faktor ekonomi dan kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan rendah.

Solehuddin, tokoh pemerhati pendidikan di Kecamatan Camplong mengatakan, masalah siswa putus sekolah di Kota Bahari kompleks. Namun penyebab yang dominan siswa putus sekolah yaitu dukungan keluarga yang minim. Kesadaran para orang tua mendorong putera-puterinya menempuh pendidikan yang lebih masih kurang. Terutama di wilayah pedesaan.

"Faktor ekonomi juga menjadi penyebab angka siswa putus sekolah di Sampang tinggi," tuturnya kepada Madurapost, Kamis (30/8/19).

Pemkab Sampang telah berupaya mendekatkan lembaga pendidikan kepada masyarakat. Hal itu bisa dilihat dari jumlah sekolah di masing-masing kecamatan. Mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), SD, SMP/MTs, hingga SMA dan MA.

"Jumlah lembaga pendidikan di Sampang banyak baik negeri dan swasta. Apalagi untuk Madrasah Ibtidaiyah (MI), dan MTs," terangnya.

Penyebab lain siswa putus sekolah adalah faktor ekonomi keluarga. Soleh menjelaskan, jika ekonomi keluarga tercukupi kemungkinan tidak akan ada siswa putus sekolah. Banyak siswa tamatan SMP yang tidak melanjutkan pendidikan ke SMA karena memilih bekerja.

"Mereka mengikuti orang tuanya bekerja. Karena mereka menganggap bahwa pendidikan di SMP itu sudah cukup," ucapnya. 

Pria yang berprofesi sebagai Dosen itu menuturkan, pemkab Sampang dalam hal ini Dinas Pendidikan (Disdik) perlu menjalankan program yang bisa menekan angka siswa putus sekolah, dan semua elemen masyarakat harus mendukung. Khususnya para orang tua atau wali murid.

"Kalau hanya pemkab yang menjalankan tidak akan bisa dan sulit. Karena itu, perlu dukungan semua pihak," tutur Soleh.

Kabid Pembinaan SD Disdik Sampang Achmad Mawardi menyatakan, tinginya angka siswa putus sekolah masih sulit ditekan. Setiap tahun selalu ada siswa putus sekolah baik yang berhenti maupun yang sudah lulus tapi tidak melanjutkan ke jenjang selanjutnya. 

Padahal selama ini pemerintah sudah berupaya menangani hal itu. Salah satunya, dengan memberikan bantuan untuk siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Bantuan diberikan agar siswa bisa tetap mengeyam pendidikan dan mengejar cita-cita.

"Tapi upaya itu belum berhasil menekan angka siswa putus sekolah. Utamanya di pelosok. Padahal lembaga pendidikan di situ sudah ada," terangnya.

Banyak anak di Kota Bahari yang putus sekolah karena mengikuti orang tuanya merantau. Bahkan, tidak sedikit anak yang dinikahkan pada usia dini. Padahal, kata Wawang pendidikan merupakan salah satu kebutuhan primer dan memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak.

Ke depan, pihaknya berharap tidak ada siswa yang tidak sekolah karena faktor ekonomi keluarga. Semua anak harus mengeyam pendidikan hingga tuntas dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Pemerintah memiliki program bantuan siswa miskin (BSM), dan kartu Indonesia pintar (KIP). Ini yang perlu dipahami masyarakat.

"Orang tua memiliki peranan fundamental dan strategis dalam rangka mendorong putera-puterinya untuk sekolah. Persoalan anak putus sekolah bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah. Tapi, juga menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat," tukasnya. (mp/zen/rus)