PMII Bangkalan Nilai Kinerja Wakilnya Tak Produktif
Cari Berita

Advertisement

PMII Bangkalan Nilai Kinerja Wakilnya Tak Produktif

Saturday, 13 April 2019

Imron Rosyadi Ketua DPRD Bangkalan Saat ditemui sejumlah wartawan

BANGKALAN, Madurapost.co.id - Madurapost aktivis PMII Bangkalan melakukan aksi terhadap wakil rakyat kabupaten Bangkalan, Jum'at (12/4/2019). Puluhan aktivis PMII itu mengkritisi kinerja DPRD Bangkalan selama satu periode menjabat.

Aksi demonstrasi yang dikomandoi oleh Baijuri Alwi itu menilai kinerja wakil rakyat selama kurun waktu empat tahun lima bulan dianggap tidak produktif.

Selain itu, pendemo mengatakan, DPRD Bangkalan selalu molor dalam menetapkan anggaran (APBD). Pengawasan DPRD terhadap pihak eksekutif sangat lemah. Perda (peraturan daerah) yang dibuat terkesan sia-sia.

Pendemo juga mengatakan, DPRD Bangkalan telah ingkar janji untuk memanggil pihak-pihak terkait yang membidangi program insentif guru ngaji dan madin, serta terkesan tidak adanya pengawasan dari DPRD.

Pendemo menyampaikan selama 4 tahun 5 bulan DPRD Bangkalan hanya menghasilkan 28 Perda dengan 16 perda inisiatif dan 12 perda eksekutif. Rinciannya pada tahun 2015 DPRD Bangkalan menghasilkan 3 Perda, tahun 2016 4 Perda, tahun 2017 13 Perda, tahun 2018 menghasilkan 5 Perda.

"Dari 16 perda inisiatif ini 4 diantaranya dari Bapemperda, sisanya perda eksekutif," kata Baijuri Alwi saat orasi.

Minimnya Perda yang dikeluarkan dapat dinilai produktivitas kinerja DPRD Bangkalan sangat rendah. DPRD selalu molor saat memberikan persetujuan anggaran, terkesan banyak kepentingan pribadi.

"Banyak Pokir (Pokok pikiran) yang bocor sebanyak 75 Miliar," tambahnya.

Imron Rosyadi selaku Ketua DPRD Bangkalan menanggapi tuduhan dari aktivis PMII Cabang Bangkalan bahwa DPRD tidak bekerja sangatlah subjektif.

Ketua DPRD itu mengklaim mulai dari tahun 2015 sampai tahun 2019 ini pihaknya sudah menghasilkan 40 Perda. Sampai saat ini (2019) sudah hampir 40 perda yang dihasilkan, sampai 2018 saja sudah 36 perda yang ditetapkan.

Berkenaan dengan budgeting (penganggaran), Imron mengatakan, Kabupaten Bangkalan tidak pernah bermasalah dengan proses penggaran. Namun hanya pada tahun 2017 saja yang mengalami keterlambatan.

"2017 itu bermasalah karena pihak eksekutif tidak menyampaikan kepada DPRD sampai batas terakhir yang ditentukan," tandasnya.

Menanggapi Pokir yang dikatakan bocor oleh pendemo sebanyak 75 miliar, Imron mempertanyakan Pokir yang bocor itu disebelah mana.

"Mereka berteriak-teriak Pokir bocor entah pemahaman seperti apa Pokir yang dianggap bocor itu, saya juga tidak tahu," ucapnya.(Mp/Ron/Rul)