Gara-gara Kalah Dukungan Pilres dan Pileg, Jalan Desa di Sokobanah Laok Diduga Disempitkan
Cari Berita

Advertisement

Gara-gara Kalah Dukungan Pilres dan Pileg, Jalan Desa di Sokobanah Laok Diduga Disempitkan

Tuesday, 23 April 2019

Jalan di Sokobah Laok yang disempitkan akibat kalah dalam pileg. (Foto: Saman/Biro Sampang)

SAMPANG, Madurapost.co.id - Gara-gara kalah dukungan Pilpres dan Pileg, jalan di Dusun Gimbuk, Desa Sokobanah Laok, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang, diduga disempitkan. Selasa, (23/4/2019).

Menurut salah satu warga setempat mengungkapkan, penyempitan jalan dilakukan oleh salah satu pendukung 01 Jokowi-Ma'ruf Amin yang sekaligus juga pendukung Caleg DPRD dari Partai Golkar atas nama Djikun. Djikun merupakan Mantan Kepala Desa setempat.

Dia menambahkan bahwa penyempitan jalan sebelumnya tidak diawali masalah. Namun pada waktu pemungutan surat suara tepatnya di TPS 06 dari caleg tersebut, pencoblosan dilakukan hampir tengah hari lantaran dari saksi kubu 02 Prabowo tidak setuju dilakukan pemungutan surat suara, kecuali dengan catatan jujur dan adil (jurdil).

Saksi dari 02 tetap ngotot agar pesta demokrasi di TPS itu dilaksanakan secara jurdil. Sehingga surat suara hanya mau dikeluarkan dua saja yaitu surat suara DPRD dan Presiden. Adapun surat suara untuk DPRD Provinsi dan pusat serta DPD tidak dikeluarkan oleh anggota pelaksana.

Oleh karenanya, saksi pilpres 02 tetap ngotot agar proses tersebut berjalan secara Jurdil. Namun setelah didatangi tokoh masyarakat bernama Bahruddin, suasana hampir ricuh, namun pencoblosan tetap berlangsung.

Usai pencoblosan ditutup ternyata masih terjdi perdebatan, lantaran pendukung caleg yang di usung Partai Golkar itu meminta hanya surat suara milik presiden saja yg dihitung dan caleg yang diusung dari Partai Golkar itu minta langsung angka 150 surat suara. Maka secara serentak para saksi tersebut menyatakan tidak menerima.

Akhirnya, penghitungan dilakukan berjalan lancar hingga penutupan ternyata caleg yang awalnya pendukungnya minta langsung diisi angka 150 ternyata setelah penghitungan dilakukan secara jurdil, dia hanya mendapatkan surat suara sah 6.

Setelah keesokan harinya, pemilihan maka terjadilah penyempitan jalan bukannya pelebaran. Ketika ditelusuri penyebabnya penyempitan jalan ternyata alasannya karena jalan rusak sering dilewati mobil besar. mendengar alasan itu masyarakat secara serentak merespon.

"Emang jalan tanggungan siapa, lah wong saya naik mobil dan sepeda motor saya bayar pajak, lalu kemana pajak itu dipergunaka," tanya salah seorang warga yang enggan disebut namanya.

Sementara itu, Kepala Desa Sokobanah Laok, Indra Kusuma Iswadi menyampaikan, bahwa jalan tersebut dari pemilik tanah disuruh diberikan batu ke pihak pemilik mesin batu dan pemilik Bego supaya bisa dilintasi mobil damk truck tapi tetap abaikan.

"Sementara jalan tersebut fokos mobil pribadi yang bisa melintasi. Jalan tersebut tidak ada unsur politik sama sekali," pungkasnya. (mp/man/zul)